Harga mobil listrik BYD dipastikan tidak otomatis turun meski produksi lokal sudah dimulai di Subang, Jawa Barat. Keputusan ini menarik perhatian pasar karena banyak konsumen sebelumnya berharap perakitan lokal bisa membuat harga kendaraan listrik menjadi lebih murah.
Jakarta – BYD Indonesia mulai masuk fase baru di pasar otomotif nasional. Setelah meresmikan fasilitas produksi di Subang Smartpolitan Industrial Park pada 3 September 2026, pasokan kendaraan baru BYD secara bertahap akan berasal dari produksi dalam negeri. ANTARA melaporkan bahwa BYD juga memastikan tidak lagi mengimpor mobil secara utuh atau CBU setelah pabrik Subang mulai beroperasi.
Bagi pembaca Vegas4D Forum, kabar ini penting untuk diperhatikan. Sebab, produksi lokal biasanya dianggap sebagai jalan untuk menekan harga. Namun, dalam kasus BYD, situasinya tidak sesederhana itu.
Struktur Fiskal Jadi Alasan Utama
BYD menjelaskan bahwa harga mobil listrik BYD tidak langsung berubah karena struktur fiskal antara kendaraan impor dan produksi lokal sudah relatif setara. Sebelumnya, BYD memperoleh fasilitas fiskal untuk masa transisi dari impor CBU menuju produksi dalam negeri. Bisnis.com menulis bahwa skema tersebut membuat struktur fiskal kendaraan impor dan kendaraan produksi lokal berada dalam posisi relatif sama.

Artinya, ketika produksi lokal dimulai, tidak ada perubahan biaya pajak yang langsung membuat harga kendaraan turun besar. Karena itu, konsumen tidak bisa langsung mengharapkan potongan harga hanya karena mobil sudah dirakit di Indonesia.
Kondisi ini juga menjelaskan kenapa BYD memilih menjaga harga tetap stabil. Perusahaan terlihat lebih fokus menjaga kesinambungan pasokan dan memenuhi kewajiban produksi lokal.
Volume Produksi Belum Optimal
Selain faktor fiskal, volume produksi juga menjadi alasan penting. BYD menilai biaya produksi lokal sangat bergantung pada skala produksi. Jika volume belum optimal, biaya produksi justru bisa lebih tinggi.
ANTARA mencatat bahwa menurut BYD, produksi lokal dengan volume yang belum optimal dapat membuat biaya kendaraan menjadi lebih mahal. Karena itu, BYD kini fokus mengoptimalkan kapasitas produksi pabrik Subang sebelum memperluas lokalisasi model lain.
Dalam catatan otomotif di Vegas4D Forum, alasan ini cukup masuk akal. Pabrik baru biasanya membutuhkan waktu untuk mencapai efisiensi penuh. Semakin besar volume produksi, semakin besar peluang biaya produksi ditekan.
Pabrik Subang Jadi Basis Produksi BYD
Pabrik BYD di Subang menjadi bagian penting dari strategi jangka panjang perusahaan di Indonesia. Fasilitas ini berdiri di atas lahan sekitar 126 hektare dan memiliki kapasitas produksi hingga 150.000 unit per tahun. Bisnis.com juga mencatat total investasi BYD di Indonesia mencapai Rp16 triliun, termasuk pabrik, distribution center, logistik, dan jaringan pendukung manufaktur.

Pada tahap awal, BYD memprioritaskan produksi lokal untuk model dengan volume penjualan besar. Model yang disebut masuk tahap awal produksi lokal adalah BYD M6 EV, M6 DM, dan Atto 1. Peluang produksi lokal untuk model lain, termasuk Denza, akan dilakukan bertahap.
Langkah ini menunjukkan bahwa BYD tidak langsung melokalkan semua model. Perusahaan memilih model yang paling potensial secara volume terlebih dahulu.
Impor CBU Dihentikan
Setelah pabrik Subang beroperasi, BYD menyatakan tidak lagi mengimpor mobil secara utuh. Meski begitu, unit dari pasokan impor sebelumnya masih akan dijual sampai stok di jaringan diler habis. Setelah itu, pasokan baru akan berasal dari produksi lokal.
Peralihan ini menjadi bagian dari komitmen BYD setelah memperoleh fasilitas impor kendaraan listrik sebelumnya. ANTARA melaporkan bahwa BYD menggunakan sekitar 92.000 unit dari kuota impor tersebut. Sebagai kompensasi, perusahaan wajib membangun fasilitas produksi dan memenuhi kewajiban produksi domestik dengan persyaratan tertentu.
Dengan kata lain, produksi lokal bukan hanya strategi bisnis. Ini juga menjadi bagian dari komitmen investasi BYD di Indonesia.
Harga Tetap, Tapi Strategi Jangka Panjang Berubah
Meski harga mobil listrik BYD belum turun, produksi lokal tetap membawa dampak besar. Salah satunya adalah kepastian pasokan. Jika produksi dalam negeri berjalan stabil, BYD bisa lebih cepat menyesuaikan model dengan permintaan pasar Indonesia.

Selain itu, produksi lokal juga membuka peluang peningkatan kandungan lokal. ANTARA melaporkan bahwa BYD menyiapkan langkah manufaktur terkait baterai untuk memperbesar Tingkat Komponen Dalam Negeri atau TKDN. BYD juga menargetkan pemenuhan TKDN 60 persen mulai Januari 2027.
Jika target ini berjalan sesuai rencana, ekosistem kendaraan listrik di Indonesia bisa ikut berkembang. Dampaknya tidak hanya terasa pada penjualan mobil, tetapi juga pada tenaga kerja, komponen, teknologi, dan layanan purna jual.
Daftar Harga Masih Kompetitif
Bisnis.com mencatat daftar harga BYD OTR Jakarta, antara lain Atto 1 mulai Rp199 juta, M6 DM mulai Rp298 juta, Dolphin mulai Rp369 juta, M6 mulai Rp395 juta, Atto 3 mulai Rp415 juta, dan Sealion 7 mulai Rp629 juta.
Harga tersebut membuat BYD tetap berada dalam persaingan kuat di pasar mobil listrik nasional. Namun, konsumen tetap perlu membandingkan kebutuhan secara lengkap. Jangan hanya melihat harga awal.
Pembeli juga perlu mengecek jarak tempuh, fitur keselamatan, garansi baterai, biaya servis, ketersediaan bengkel, dan nilai jual kembali.